

91 Tahun, Panjebar Semangat Di Tengah Tantangan Zaman
Dengan 91 tahun perjalanan yang dilalui, kami berkomitmen untuk selalu bertindak dengan integritas, menjunjung tinggi kejujuran dan transparansi dalam semua interaksi.
Kami mendorong inovasi dengan cara berpikir di luar batas untuk menghadirkan solusi yang lebih baik untuk para pembaca. Tak lupa juga, kami berusaha selalu menjadikan kepuasan pelanggan nomor satu, serta berkomitmen untuk memberikan pengalaman dan layanan terbaik.
Kami percaya bahwa kerja tim yang baik, dengan kolaborasi dan komunikasi yang efektif, akan menghasilkan hasil yang lebih optimal.
Kami berharap selalu menjadi media yang dapat merangkul semua generasi, tidak hanya melalui media cetak tetapi juga media digital.
Sejarah Panjebar Semangat
Panjebar Semangat telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang dalam dunia media berbahasa Jawa. Kami terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pembaca setia kami.
1933
Berdirinya Panjebar Semangat
Panjebar Semangat merupakan majalah berbahasa Jawa tertua di dunia yang didirikan oleh Dr. Soetomo pada tanggal 2 September 1933 di Surabaya. Alasan Dr. Soetomo mendirikan Panjebar Semangat adalah atas dasar kepeduliannya dengan kemajuan literasi masyarakat pada masa pra-kemerdekaan.
1937
Wafatnya Pendiri Panjebar Semangat
Pada tanggal 30 Mei 1938, Dr. Soetomo menghembuskan nafas terakhir. Saat itu Panjebar Semangat belum genap 5 tahun. Lalu setelah Dr. Soetomo wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh rekannya yaitu Imam Supardi.
1942
Peristiwa Penghentian Penerbitan
Salah satu peristiwa yang paling berat yang dialami Panjebar Semangat yaitu ketika Jepang melakukan larangan penerbitan dan peredaran kepada semua surat kabar dan majalah yang ada di Indonesia. Tak langsung menutup proses redaksi, Panjebar semangat masih terus beroperasi demi memenuhi permintaan pelanggan yang kian meningkat. Buntut dari permasalahan ini adalah diasingkannya Imam Supardi ke Malang dan Kediri. Bahkan mesin-mesin cetak dan semua peralatan juga disita hingga dipindahkan ke Bali.
1949
Peristiwa Kebangkitan
Setelah menunggu selama 7 tahun, akhirnya pada tahun 1949 Imam Supardi berhasil membangkitkan kembali Panjebar Semangat. Perlahan tapi pasti, akhirnya Panjebar Semangat bisa semakin naik terlepas dari dinamika pasang-surut dunia ekonomi dan politik di Indonesia saat itu. Di tangan Imam Supardi, penjualan majalah Panjebar Semangat mengalami kenaikan angka yang luar biasa hingga 80.000 eksemplar.
1962
Era Demokrasi Terpimpin
Penurunan penjualan yang tajam kembali menimpa Panjebar Semangat pada era ini, karena pada era ini kendali politik terhadap media massa semakin merajalela sehingga membuat citra pers semakin memburuk. Ditambah dengan wafatnya sang pemimpin, Imam Supardi, membuat penjualan semakin merosot drastis.
1968
Panjebar Semangat Bersinar
Setelah wafatnya Imam Supardi, peran Pemimpin langsung diambil alih oleh sang adik, Mohammad Ali. Kabar baiknya, keputusan tersebut membuahkan hasil yang bagus karena oplah majalah kembali naik mencapai 22.000 eksemplar. Peningkatan tersebut terjadi hingga tahun 1984 yang mencapai 66.000 eksemplar.
1998
Cahaya Padam
Cahaya padam kembali terjadi ketika pada tahun 1994 Panjebar Semangat kehilangan sosok sang pemimpin, Mohammad Ali. Kejadian tersebut berdampak cukup besar untuk keberlangsungan Panjebar Semangat. Ditambah dengan kejadian pada tahun 1998 ini ketika krisis moneter hadir di Indonesia, Panjebar Semangat terpaksa hanya terbit setengah halaman saja.
2009
Generasi Ketiga : Panggilan Hati Teruskan Perjuangan
Pada tahun ini, Pemimpin Panjebar Semangat dilanjutkan oleh generasi ketiga yaitu Kustono Jatmiko dibantu dengan istri Arkandi Sari. Awal kepemimpinan, Kustono Jatmiko merasa berat bahkan harus memaksakan diri untuk meneruskan bagaimana Panjebar Semangat harus bisa tetap bertahan. Tetapi rasa hampir putus asa kepada keadaan yang terjadi, sedikit demi sedikit mulai bisa teratasi berkat bantuan dari berbagai pihak serta pelanggan yang selalu setia menemani Panjebar Semangat.
2013
Pencapain Berharga
Usaha tak menghianati hasil, pada tanggal 2 September 2013, Panjebar Semangat menerima rekor MURI sebagai Majalah Berbahasa Jawa Tertua di Indonesia ketika usianya menginjak 80 tahun.
2024
Transformasi Panjebar Semangat
Hingga saat ini, majalah Panjebar Semangat masih selalu menjadi pilihan oleh pembaca dan selalu di rindukan setiap minggunya. Panjebar Semangat tetap akan selalu hadir dan berinovasi untuk menemani pembaca setia dengan menghadirkan pengalaman menjelajah secara digital melalui sosial media Panjebar Semangat.
Meet Our Founders

Dr. Soetomo
Pendiri Majalah Panjebar Semangat, 1933

Imam Soepardi

Mohammad Ali

Soejatmiko

Our Mission
- Melakukan kegiatan yang akan menunjang perkembangan Panjebar Semangat
- Menciptakan konten yang relevan dan menarik untuk memastikan keberlanjutan membaca di setiap usia
- Menyediakan konten berkualitas dalam bahasa Jawa melalui majalah mingguan guna meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap budaya Jawa
Our Vision
Menjadi media berbahasa Jawa yang tetap selalu ada sampai kapan -pun.”

Meet Our Authors

Tunggul Honggo Wardono

Kukuh Setyo Wibowo

Dwi Sukirahayu Elisabet N.

Ahmad Rizky Wahyu
Meet Our Team

Iryan Nuswantoro

Kurnan

Endang Sriwati

Sony Baskoro

Fathurrahman

Dwi Okta Saptiano

Zulfa Eka Widya N.

Sri Makartiningsih
Dr. Suprawoto, S.H, M.Si. | Bupati Magetan, Penulis Bahasa Jawa
Katon banget yen majalah Panjebar Semangat bener-bener diaji-aji banget. Ya diaji-aji majalahe uga isine kang dadi rujukan. Mula nyuwun duka yen aku banjur kumawani ngarani majalah Panjebar Semangat ing jaman iku majalah sucine wong jawa.

